Beranda > ARTIKEL > Wajah Guru Profesional

Wajah Guru Profesional

WAJAH GURU PROFESIONAL

Semboyan guru pahlawan tanpa tanda jasa kini mulai usang didengar dan tidak realistis lagi dalam kehidupan sekarang ini. Kenyataan ini tampak terutama dalam kacamata mutu pendidikan yang mengecewakan.

Sebagai manusia biasa, guru memang bukan segalanya. Beban keterpurukan dalam pendidikan selama ini seharusnya tidak hanya terlimpahruahkan di pundak mereka yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Profesionalisme mereka hingga kini selalu saja dipertanyakan. Upaya meningkatkan profesionalisme guru pun telah gencar dilakukan lewat sertifikasi guru, namun tetap saja masih belum mampu memberikan hasil yang signifikan.

Kita menyadari bahwa profesionalisme guru merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Seiring dengan meningkatnya persaingan yang semakin ketat dalam era globalisasi seperti sekarang ini, diperlukan orang-orang yang memang benar-benar ahli dibidangnya dan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki agar setiap orang dapat berperan secara optimal termasuk guru sebagai sebuah profesi yang menuntut kecakapan dan keahlian tersendiri.

Profesionalisme tidak hanya karena faktor tuntutan dari perkembangan zaman, tetapi pada dasarnya juga merupakan suatu keharusan bagi setiap individu dalam kerangka perbaikan kualitas hidup manusia. Profesionalisme menuntut keseriusan dan kompetensi yang memadai, sehingga seseorang dianggap layak untuk melaksanakan sebuah tugas.
Persoalan klasik yang sampai saat ini terus membayangi profesi guru sehingga berdampak pada kinerja dan profesionalisme mereka adalah masalah ekonomi terutama berkaitan dengan kesejahteraan guru. Persoalan inilah yang menjadikan guru serba dilematis. Di satu sisi mereka dituntut melakukan pemulihan total pendidikan di negara ini, namun di sisi lain walaupun memang bukan segala-galanya, materi merupakan hal yang sangat naif di masa seperti saat ini.

Belum ditemukannya solusi yang tepat dan ditambah lagi dengan berbagai persoalan lain yang terus membelenggu pendidikan kita, bisa jadi pendidikan di negeri ini akan jauh lebih parah lagi. Apalagi alokasi dana 20% dari APBN untuk dunia pendidikan tidak pernah terpikirkan untuk segera direalisasikan. Dari segi ekonomi, ketika gaji guru yang pas-pasan dan tuntutan kebutuhan kian membumbung, tidak dapat dipungkiri hal itu akan menjadikan guru sebagai korban nyata dari arus budaya berupa penghargaan dan pengharapan yang tinggi akan materi. Jika hal itu yang terjadi maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi pada pendidikan bangsa ini nantinya.

Akhir-akhir ini, perhatian pemerintah untuk memulihkan pendidikan di negari ini patut mendapatkan apresiasi penuh. Peningkatan kesejahteraan guru sebagai salah satu bentuk profesi yang kini diakui oleh pemerintah pasca pelaksanaan sertifikasi akan segera terealisasikan. Kini saatnya bagi guru untuk bersikap lebih arif dan bijaksana menanggapi hal tersebut dengan bekerja keras untuk kembali mewujudkan dan meningkatkan profesionalisme yang tinggi sebagai seorang guru sejati. Perlu dicatat bersama pula ialah bahwa guru bukanlah malaikat, mereka tetap saja sebagai manusia biasa. Bentuk pengharapan mereka akan materi adalah hal yang wajar dan lumrah. Namun lika-liku masalah pendidikan di negari ini seharusnya menjadi tanggungjawab bersama seluruh eleman masyarakat bangsa Indonesia, sehingga kelak pendidikan di negeri ini akan mampu memberikan kontribusi yang baik bagi perjalanan bangsa Indonesia dimasa yang akan datang.

Iklan
Kategori:ARTIKEL
  1. Januari 13, 2010 pukul 3:20 am

    Guru…..yang jadi pertanyaan siapakah guru? guru seperti apa yang pendidikan Indonesia butuhkan saat ini??

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: