GURU : ANTARA PILIHAN DAN TANTANGAN

Januari 8, 2010 4 komentar

Menjadi seorang guru kini merupakan sebuah profesi yang mulai diminati oleh banyak orang. Ratusan bahkan ribuan orang kini saling berebut untuk mendapatkan profesi ini bak kerumunan orang yang melihat diskon besar-besaran di pusat perbelanjaan. Dengan semakin membaiknya kondisi kesejahteraan guru dibandingkan dulu serta adanya sertifikasi yang belum lama ini dilakukan oleh pemerintah, sudah barang tentu guru menjadi salah satu profesi pilihan.

Kita patut bangga dan memberi apresiasi penuh melihat antusiasme masyarakat yang begitu tinggi terhadap profesi guru saat ini. Tidak dapat dipungkiri, keberadaan guru ditengah-tengah masyarakat merupakan hal yang sangat penting. Menekuni profesi sebagai seorang guru, tidak hanya terbatas di sekitar lingkungan sekolah saja, tetapi juga bertanggungjawab terhadap masyarakat yang ada disekelilingnya. Hal ini merupakan suatu bentuk konsekuensi yang harus diterima seorang guru bahwa mereka memang orang yang patut ditiru dan digugu tidak hanya dilingkungan sekolah, namun juga dalam masyarakat.

Sebagai ujung tombak perubahan bangsa, sudah sepatutnya guru mendapatkan tempat yang lebih mulia dan terhormat dibandingkan dengan profesi yang lain. Memilih menjadi seorang guru adalah pilihan yang tidak begitu saja mudah diambil oleh seseorang, apalagi bila dibandingkan dengan menjadi anggota Dewan, pengusaha ataupun politikus yang hidupnya jauh lebih terjamin. Motivasi seseorang untuk menjadikan profesi guru sebagai pilihan hidupnya merupakan sebuah bentuk kepedulian terhadap kondisi pendidikan bangsa yang banyak didera kecacatan. Tidak bisa dihitung dengan pasti berapa jumlah dan berapa macam permasalahan yang melingkupi pendidikan kita dan menjadikan guru sebagai kambing hitam dibalik semua itu.

Lepas dari semua permasalahan yang ada, pilihan untuk menjadi seorang guru berarti pula menjalani sebuah tantangan berat meningkatkan mutu pendidikan bangsa. Menurut Raka Joni (Conny R. Semiawan dan Soedijarto, 1991), bahwa hakekat tugas guru pada umumnya berhubungan dengan pengembangan sumber daya manusia yang pada akhirnya akan paling menentukan kelestarian dan kejayaan kehidupan bangsa. Dengan kata lain bahwa guru mempunyai tugas membangun dasar-dasar kehidupan manusia yang akan dijalani dimasa mendatang. Mengingat hakekat tugas guru yang demikian, guru memiliki tanggungjawab tidak hanya menyampaikan ide-ide, akan tetapi ia juga menjadi suatu wakil dari suatu cara hidup yang kreatif serta suatu simbol kedamaian dan ketenangan. Oleh karena itu, guru merupakan penjaga peradaban dan pelindung kemajuan. (Meyer dalam Dirto Hadisusanto, Suryati Sidharto dan Dwi Siswoyo, 1995).

Melalui berbagai bentuk usaha guru dalam menjalani tantangan pendidikan nyata yang ada, guru dituntut untuk dapat mengejawantahkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, bangsa dan negara dalam diri pribadinya. Hal ini dimaksudkan agar dalam setiap pribadi guru tertanam nilai-nilai yang dapat mengarahkan pada kemampuan untuk mengembangkan fungsinya secara lebih luas. Suatu persayaratan yang cukup berat memang untuk memenuhi kualifikasi sebagai seorang guru. Tidak berlebihan pula apabila kini pemerintah menetapkan standar yang tinggi bagi para calon guru, mengingat begitu banyaknya persoalan pelik yang masih saja terus membelenggu pendidikan kita sehingga perlu dipersiapkan guru-guru yang mampu bertahan dalam kondisi yang demikian.
Menjadikan profesi guru baik sebagai pilihan maupun tantangan hendaknya tidak melupakan apa yang menjadi hakekat tugas guru dan tanggungjawabnya terhadap masyarakat, bangsa dan negara. Dengan adanya keserasian antara keduanya, diharapkan akan dapat memberikan efek positif terhadap mutu pendidikan di Indonesia dan berimbas positif pula terhadap profesi guru dimasa yang akan datang.

Iklan
Kategori:ARTIKEL

Wajah Guru Profesional

Januari 8, 2010 1 komentar

WAJAH GURU PROFESIONAL

Semboyan guru pahlawan tanpa tanda jasa kini mulai usang didengar dan tidak realistis lagi dalam kehidupan sekarang ini. Kenyataan ini tampak terutama dalam kacamata mutu pendidikan yang mengecewakan.

Sebagai manusia biasa, guru memang bukan segalanya. Beban keterpurukan dalam pendidikan selama ini seharusnya tidak hanya terlimpahruahkan di pundak mereka yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Profesionalisme mereka hingga kini selalu saja dipertanyakan. Upaya meningkatkan profesionalisme guru pun telah gencar dilakukan lewat sertifikasi guru, namun tetap saja masih belum mampu memberikan hasil yang signifikan.

Kita menyadari bahwa profesionalisme guru merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Seiring dengan meningkatnya persaingan yang semakin ketat dalam era globalisasi seperti sekarang ini, diperlukan orang-orang yang memang benar-benar ahli dibidangnya dan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki agar setiap orang dapat berperan secara optimal termasuk guru sebagai sebuah profesi yang menuntut kecakapan dan keahlian tersendiri.

Profesionalisme tidak hanya karena faktor tuntutan dari perkembangan zaman, tetapi pada dasarnya juga merupakan suatu keharusan bagi setiap individu dalam kerangka perbaikan kualitas hidup manusia. Profesionalisme menuntut keseriusan dan kompetensi yang memadai, sehingga seseorang dianggap layak untuk melaksanakan sebuah tugas.
Persoalan klasik yang sampai saat ini terus membayangi profesi guru sehingga berdampak pada kinerja dan profesionalisme mereka adalah masalah ekonomi terutama berkaitan dengan kesejahteraan guru. Persoalan inilah yang menjadikan guru serba dilematis. Di satu sisi mereka dituntut melakukan pemulihan total pendidikan di negara ini, namun di sisi lain walaupun memang bukan segala-galanya, materi merupakan hal yang sangat naif di masa seperti saat ini.

Belum ditemukannya solusi yang tepat dan ditambah lagi dengan berbagai persoalan lain yang terus membelenggu pendidikan kita, bisa jadi pendidikan di negeri ini akan jauh lebih parah lagi. Apalagi alokasi dana 20% dari APBN untuk dunia pendidikan tidak pernah terpikirkan untuk segera direalisasikan. Dari segi ekonomi, ketika gaji guru yang pas-pasan dan tuntutan kebutuhan kian membumbung, tidak dapat dipungkiri hal itu akan menjadikan guru sebagai korban nyata dari arus budaya berupa penghargaan dan pengharapan yang tinggi akan materi. Jika hal itu yang terjadi maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi pada pendidikan bangsa ini nantinya.

Akhir-akhir ini, perhatian pemerintah untuk memulihkan pendidikan di negari ini patut mendapatkan apresiasi penuh. Peningkatan kesejahteraan guru sebagai salah satu bentuk profesi yang kini diakui oleh pemerintah pasca pelaksanaan sertifikasi akan segera terealisasikan. Kini saatnya bagi guru untuk bersikap lebih arif dan bijaksana menanggapi hal tersebut dengan bekerja keras untuk kembali mewujudkan dan meningkatkan profesionalisme yang tinggi sebagai seorang guru sejati. Perlu dicatat bersama pula ialah bahwa guru bukanlah malaikat, mereka tetap saja sebagai manusia biasa. Bentuk pengharapan mereka akan materi adalah hal yang wajar dan lumrah. Namun lika-liku masalah pendidikan di negari ini seharusnya menjadi tanggungjawab bersama seluruh eleman masyarakat bangsa Indonesia, sehingga kelak pendidikan di negeri ini akan mampu memberikan kontribusi yang baik bagi perjalanan bangsa Indonesia dimasa yang akan datang.

Kategori:ARTIKEL

Desember 9, 2009 7 komentar

Pendidikan Tidak Melulu Bicara Soal Uang

Apa jadinya ketika pendidikan bertujuan hanya untuk menghasilkan uang. Mungkin orang akan berpendapat berbeda mengenai hal ini. Tetapi satu hal yang pasti bahwa pendidikan yang berorientasi hanya untuk menghasilkan uang akan melahirkan pendidikan yang lebih mementingkan hasil ketimbang memperdulikan proses pendidikan itu sendiri.

Suatu keegoisan bila pendidikan semata-mata hanya berbicara soal uang. Ditengah krisis ekonomi yang terus melanda Indonesia, hampir semua aspek kehidupan mengalami dampak negatif tidak terkecuali aspek pendidikan. Pendidikan mulai mengubah haluannya kearah yang berlawanan dari hakekat pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan tidak lagi menjadi sarana untuk berusaha mencari jalan keluar dari krisis yang sedang dihadapi, tetapi justru mengarahkan orang untuk ikut terjerumus dan berleha-leha menikmati krisis tersebut.

Keberhasilan tidak hanya dapat dinilai dengan uang, termasuk pula keberhasilan dalam pendidikan. Memang, dengan uang seseorang dapat memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk mengenyam pendidikan. Bahkan dengan uang, seseorang dapat memiliki gelar pendidikan yang diinginkan tanpa harus melalui proses kerja keras yang menyita banyak waktu dan pikiran. Uang juga berperan besar dalam menentukan kualitas hidup seseorang. Tetapi bukan suatu hal yang bijak apabila uang dianggap segala-galanya hingga mampu menyeret orang untuk menjadi penghamba uang.

Sebuah kekhawatiran yang perlu menjadi perhatian serius dari semua pihak untuk segera dicarikan solusinya. Bukan suatu hal yang tidak mungkin jika kondisi seperti ini terus dibiarkan tanpa ada kepedulian, pendidikan Indonesia hanya akan menjadi tong kosong belaka. Sungguh ironis ketika kita melihat orang dengan sungguh-sungguh bekerja keras demi memperoleh pendidikan, tetapi di lain pihak, tidak sedikit orang yang menjadikan pendidikan sebagai sesuatu yang dapat diperjual-belikan. Tidak mengherankan bila melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini. Suatu hal yang kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan dan introspeksi diri. Kita tidak dapat menyalahkan siapapun. Sudah sangat terlambat bagi kita untuk mencari kambing hitam dibalik semua ini. Sudah saatnya pendidikan Indonesia segera mencari jalan keluar untuk segera beranjak dari keterpurukan dan kembali ke jalan yang benar.

Harapan yang menjadi tumpuan banyak orang dari pendidikan memang hampir tertutup. Tetapi setidaknya masih ada sedikit celah kecil yang dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk membuka lebar kesempatan menuai harapan tersebut lewat kesadaran dan kejujuran. Kita harus mulai menyadari bahwa proses memperoleh sesuatu jauh lebih bermakna ketimbang hanya sekedar hasil yang diperoleh. Sebuah hasil tidak akan bermakna apapun ketika diperoleh dari proses ketidakjujuran. Sebaliknya, sebuah hasil baru akan bermakna bila dalam memperoleh hasil tersebut dilakukan dengan proses yang penuh dengan kejujuran. Sama halnya dengan proses pendidikan. Pendidikan yang dilandasi dengan kejujuran akan menjadi kunci sukses memperoleh hasil dari proses yang lebih bernilai dan bermakna.

Segera kita harus bangkit dari imajinasi dan halusinasi yang terus membelenggu dunia pendidikan Indonesia. Tidak seharusnya kita terus menutup mata dan tidak peduli terhadap kenyataan ini. Kini saatnya untuk membuka lebar pandangan dan pemikiran yang dilandasi dengan kesadaran dan kejujuran untuk membangkitkan kembali pendidikan Indonesia. Sebuah tanggungjawab besar yang menjadi hak sekaligus kewajiban setiap orang untuk berusaha mewujudkan hal tersebut demi pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Kategori:ARTIKEL